Halaman

Minggu, 16 Juli 2017

Contoh Naskah Drama "Kafia dan Semangkuk Ramen"

Kafia dan Semangkuk Ramen

(Kota Agung, itulah kota pada suatu Negara yang terkenal keramaianya. Hampir setiap hari bahkan setiap waktu kendaraan berlalulalang. Para penduduk sangat sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang berjualan, berbelanja, berkendara, dan lain-lain. Disepanjang jalan kota itu terdapat banyak bangunan yang tinggi. Salah satu bangunan itu merupakan sebuah sekolah besar dan ternama di Negara itu. Sekolah itu bernama Sun’s School. Diberi nama itu karena pemilik sekolah mempunyai seorang anak perempuan tunggal yaitu Sunny. Ia memiliki sifat yang manja dan bersikap semaunya sendiri, Sunny juga memiliki seorang teman yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi, namanya adalah Rachael. Suatu ketika Sun’s School kedatangan siswa baru bernama Risti. Risti datang dari desa  kecil yang jauh dari kota Agung. Ia anak seorang petani yang bersekolah disini karena mendapat beasiswa anak berprestasi. Pertama kali masuk sekolah tersebut Risti kebingungan mencari ruang kelasnya).

Risti :”Dimana ruang kelas 8A ya ? Kenapa sekolahnya sebesar ini ?” (Menggaruk-garuk kepalanya).
Sunny :”Siapa kamu ?” (Datang menghampiri Risti).
Rachael :”Kayaknya anak baru.”(Mengikuti langkah Sunny).
Risti :”Owh… Hai apa kabar !! Namaku Risti. Aku siswa baru disini.” (mengulurkan tangannya).
Sunny :”Owh… Gue Sunny.” (Menyalami tangan Risti lalu menyapu tangannya).
Rachael : Gue Rachael, loe dari desa ya ?” (Menunjukkan jarinya kea rah Risti).
Risti :”Iyya, aku dari desa Sukadamai.” (Sambil merapikan pakaiannya).
Rachael :”Owh… Desa Sukadamai, Desa kecil itu ?”(Tersenyum mengejek).
Risti :”Hemm…” (Menggaruk-garuk kepalanya).
Sunny : (Berbicara dengan nada lirih) ”Pantesan kelihatan dari mukanya.. kampungan.”(Tersenyum mengejek).
Rachael :”By the way, loe kelas berapa ? (Memegang pundak Risti).
Risti :”Aku kelas 8A, maaf boleh tanya ngga kelas itu letaknya dimana ?(Tersenyum).
Rachael : “Sekelas dong.”
Sunny : “Bisa aja, yuk ikut gue.”(Melipat tangan dan melangkahkan kakinya).
Risti : “Makasih ya.” (Menundukan kepala).
Rachael : (Berbisik pada Sunny dengan nada lirih) ”Loe serius pengin nganterin dia?”
Sunny :”Tenang, ikutin aja kata-kata gue” (Melirik sinis kepada Risti).
(Mereka bertiga berjalan menuju kelas tersebut. Tetapi sepertinya Sunny dan Rachael akan menjebak Risti, mereka menuju ruang kosong yang terletak di lantai paling atas).
Risti :”Kenapa belum sampai juga ?”(Terlihat kebingungan).
Rachael :”Udah deh nggak usah bawel, ikutin aja nanti bakalan sampe kok.”(Tersenyum sinis)
Sunny :”Sampe deh dikelas yang loe maksud.”(Menunjukkan tempat yang ada didepannya).
Risti :”Ini ruangannya ? kok ngga ada tulisan kelas 8A?” (Menggaruk-garuk kepalanya).
Sunny :”Ya, karena semua orang tau kalo ruang kelas 8A tuh ini, jadi ngga perlu deh papan nama itu, ya ngga ? (Memegang pundak Rachael).
Rachael :”Jelas dong, lagi pula ini kan sekolah ternama jadi ngga perlu papan-papan kayak gitu, norak tau !!!
Risti :”Oh begitu ya. Aku baru tau loh kalo sekolah-sekolah keren itu ngga perlu papan nama kelas.”
Sunny :”Ya iyyalah, anak desa mana tau tentang sekolah di kota.”
Rachael :”Ya udah sana masuk kelas.”
Risti :”Baiklah”(Melangkah dengan ragu-ragu).
Sunny :”Hemmm… (Mengedipkan mata kea rah Rachael).
Rachael :”Sipp.. (Menghitung dengan suara lirih sambil membuka pintu).
Sunny : (Mendorong tubuh Risti) ”Haha,, I’m sorry Risti.”
Rachael :”Haha.. Dadah Risti..” (Melipat kedua tangannya).
Risti :”Sunny, Rachael, buka pintunya !!! Ini bukan ruang kelas 8A.” (Mengetuk pintunya dengan keras).
Sunny :”Kita tinggal ya, selamat bersenang-senang.” (Pergi meninggalkan Risti).
(Setelah Sunny dan Rachael pergi kemudian datanglah Yahya)
Yahya :”Siapa tuh ? kenapa ada orang di ruang itu ? (Menghampiri ruang kosong).
Risti :”Tolong… tolong… Siapa yang di luar tolong bukain pintunya.” (Berteriak dan menggebrak-gebrakan pintunya).
Yahya :”Ya, sebentar ! (Memutar kuncinya dan membuka pintu).
Risti :”Huft… Alhamdulillah, makasih ya !!!
Yahya :”Sama-sama, kok kayaknya aku baru ngeliat mukamu ?” (Menggaruk-garuk kepala).
Risti :”Ya, aku memang anak baru disini.”(Keluar dari ruang kosong itu).
Yahya :”Oh,, namamu siapa ? (Mengulurkan tangan).
Risti :”Perkenalkan namaku Risti, kalo kamu ? (Menyalami tangan Yahya)
Yahya :”Namaku Yahya, Kenapa kamu bias terkunci di ruang ini ?”(Dengan muka yang ingin tahu).
Risti :”Tadi pertama aku masuk sekolah ini, aku ketemu sama anak yang namanya Sunny dan Rachael, trus aku tanya dimana ruang kelas 8A tapi mereka malah nganterin aku ke ruangan ini.”
Yahya :”Ohh,, Sunny anak yang punya sekolahan ini ? (Dengan muka terkejut).
Risti :”Hemm,, aku nggak tau.” (Lesu).
Yahya :”Ya, aku yakin pasti Sunny itu yang udah menjebakmu, ngomong-ngomong kamu kelas mana ? biar aku antar.(Mencoba mengajak Risti).
Risti :”Aku kelas 8A, beneran nih kamu mau nganterin aku ?” (Matanya berbinar-binar).
Yahya :”Ayo aku antar.” (Melangkahkan kaki menuju ruang 8A).
Risti :”Baiklah” (Mengikuti langkah Yahya).
(Mereka berdua menuju ke ruangan 8A dan sampailah mereka di ruangan itu).
Risti :”Makasih ya !! Kamu kelas sini juga (Heran).
Yahya :”Iyya (Masuk dan duduk dibangkunya).
Risti :”Ohh..” ( Mencari bangku kosong untuk duduk).
(Sunny dan Rachael memasuki kelas, saat itu juga bel tanda masuk berbunyi, lalu Sunny duduk dibangku bersama Rachael).
Sunny :”Ehmm”(Melihat wajah Risti yang telah berada di ruangan itu).
Rachael :”Hah.. Kenapa dia ada dikelas ini, tadi kan kita dah menguncinya ?”(Berbisik pada Sunny).
Sunny :”Pasti dah ada yang nolongin dia.” (Melirik ke belakang).
Zahra :”Hai,, kamu anak baru ya ?” (Menoleh kearah Risti, seperti ingin berkenalan dengannya).
Risti :”Hai juga, ya aku anak baru disini.” (Menganggukan kepala).
Zahra :”Aku Zahra, siapa namamu ?” (Mengulurkan tangan).
Risti :”Namaku Risti.” (Menyalami tangan Zahra).
Zahra :”Nanti istirahat kita ngobrol bareng ya ?”
Risti :”OK”(Tersenyum).
(Bel istirahat berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas untuk pergi ke kantin, perpustakaan, dan ada juga yang memilih untuk tetap tinggal dikelas hanya untuk mengobrol, seperti halnya Zahra, Risti dan Yahya).
Yahya :”Hai Risti, Zahra, kalian ngga ke kantin ?” (Menghampiri Risti dan Zahra).
Zahra :”Nggak ahh, aku pengin ngobrol sama Risti dan tahu banyak tentangnya”.(Menyanggahkan kepala ke tangan).
Yahya :”Ohh,, kamu tau ngga tadi pertama kali Risti kesini, dia tuh dikunci sama Sunny dan temannya.” Duduk disebelah Risti dan Zahra).
Zahra :” Hah.. beneran ?, kenapa sih Sunny dan Rachael selalu saja begitu apalagi ini sama siswa baru yang ngga salah apa-apa.” (Menghela nafas).
Yahya :”Iyya, semuanya tuh bener.”(Menghela nafas juga).
Zahra :”Apa karena dia itu anak pemilik sekolah ini, trus dia semena-mena gitu sama siswa lain.” (Melipat kedua tanganya).
Yahya :”Ya, kan sifat orang berbeda-beda.” (Memainkan pulpen yang ada didepannya).
Zahra :”Iyya sih, tapi itu tuh udah kelewat batas tau.”
Yahya :”Ya sapa tau aja bisa berubah.”
Zahra :”Amin ya Allah.” (Mengusap tangan ke muka).
Risti :”Memang Sunny dan Rachael itu siapa ? Kenapa dia begitu ?”
Zahra :”Sunny itu anak pemilik sekolah ini dan Rachael tuh temen yang paling deket sama dia sejak kecil.”
Risti :”Pantes aja semua siswa takut sama dia.”
Zahra :”Ya, karena semua siswa  tuh takut kalo dikeluarkan dari sekolah ini.”
Risti :”Kok bisa ?”
Zahra :”Ya siswa yang dikeluarkan itu pasti tidak jauh karena bermasalah dengan Sunny.”
Yahya :”Dia bisa mengeluarkan siswa siapa saja dari sekolah ini karena dia tidak menyukainya.”
Zahra :”Bisa juga  dia mengerjai siswa yang tidak ia suka sampai siswa itu mengundurkan diri sendiri dari sekolah ini.”
Risti :”Ihh nyeremin juga ya.”
Zahra :”Ya,, Eh.. udahlah jangan ngomongin dia terus, aku jadi males tau.”
Risti dan Yahya :”Okeh mba bro. Hahaha…”
Zahra :” Ihh kalian gitu deh ,, sebel-sebel.” (Bercanda).
(Beberapa saat kemudian, Sunny dan Rachael datang)
Sunny :” Eh, loe pada ngomongin gue ya ?”(Dengan suara lantang).
Zahra :”Ihh pede amat.” (Berbicara dengan nada lirih dan memalingkan muka).
Rachael :”Apa loe !! (Mata melotot).
Sunny :”Biasalah dah ketularan sama si cengil, jadi kamseupay semua deh.”
Yahya :”Udah-udah dong jangan ribut terus, bel masuk udah bunyi tuh.”
(Bel berbunyi, semua siswa masuk kelas dan duduk ditempatnya masing-masing, setelah pelajaran terakhir selesai, ibu guru mengumumkan bahwa besok ada ulangan IPS. Ulangan kali ini berbeda dari yang lalu, setiap siswa duduk sendiri supaya tidak contek-menyontek. Hal ini membuat Sunny dan Rachael gelisah. Setelah ibu guru selesai mengumumkan, siswa dipulangkan).
Sunny :”Rachael nanti pulang sekolah kita main yuk.” (Memegang pundak Rachael).
Rachael :”Maaf Sun, tapi besok kan ulangan IPS, duduknya sendiri-sendiri lagi. Aku hari ini ngga main dulu deh soalnya aku mau belajar.” (Muka lesu).
Sunny :”Ihh Rachael gitu deh, ngga mau jadi temenku lagi ya atau udah ketularan sama si cengil itu ya ?” (Dengan nada marah).
Rachael :”Jangan marah dong Sun, aku ngga bermaksud kaya gitu tapi aku cuma takut ulangan IPS nya kan ngga bisa nyontek, aku takut nilainya dibawah KKM.”(Gelisah dan lesu).
Sunny :”Lah tenang aja kamu, ulangan IPS nya bisa diatur, paling yang keluar cuma yang gitu-gitu doang, gampanglah pokoknya.”(Mencoba membujuk Risti).
Rachael :”Tapi Sun..”(Mengelak).
Sunny :”Ya udah deh kalo ngga mau jadi temenku lagi pergi aja sanah, belajar tuh sama yahya, Zahra, dan si cengil.”(Melipatkan tangan nya sambil menggerutu).
Rachael :”Ya.. ya deh nanti aku main kok kerumahmu.”
Sunny :”Nah gitu dong.”(Tersenyum).
(Karena takut dikeluarkan dari sekolah, akhirnya Rachael terpaksa menyetujui permintaan Sunny, namun keesokan harinya Sunny dan Rachael kesusahan mengerjakan soal ulangan karena tidak belajar).
(Pagi harinya)
Yahya :”Hai Risti, hai Zahra, kalian udah belajar IPS ?”(Muka berbinar-binar).
Zahra :”Ya udah dong, masa sih seorang Zahra belum belajar, hehehe !!”(Sambil bercanda).
Risti :”Aku juga udah, kalo kamu ?”
Yahya :”Udah dong.”
(Sementara itu Sunny dan Rachael sedang gelisah).
Rachael :”Aduh gimana ya Sun ? Aku belum belajar nih.”(Membuka-buka buku IPS).
Sunny :”Rachael sayang,, ngapain belajar, aku juga ngga kok.”(Bersikap santai).
Rachael :”Emangnya kamu ngga takut ulangan IPS nya ?”(Penasaran).
Sunny :”Ngapain takut, tinggal ngepek, gampang kan ?”
Rachael :”Tapi aku belum buat pek-pekan nya.”
Sunny :”Tenang aja nih dah aku buatin, hehe.”
Rachael:”Thanks ya Sun.”
Sunny :”Sipp.”
(Saat ulangan berlangsung, Zahra, Yahya, dan Risti dapat mengerjakan soal dengan mudah namun tidak sama halnya dengan Sunny dan Rachael. Contekan yang telah mereka buat tidak ada yang keluar dalam ulangan).
Rachael :” Aduh,, kamu gimana sih Sun, masa contekan yang kamu buat ngga ada yang keluar sama sekali sih.”(Khawatir dan ketakutan).
Sunny :” Aku juga ngga tau nih, tumben banget soal IPSnya susah-susah.”(Gelisah).
(Bu guru memperhatikan gerak-gerik Sunny dan Rachael yang mencurigakan, dan bu guru juga melihat kertas yang ada digenggaman tangan Sunny dan Rachael, lalu bu guru mengambil kertas itu dan ternyata kertas itu adalah contekan, maka bu guru menghukum mereka untuk tidak mengikuti pelajaran hari ini dan nilai ulangan mereka nol. Setelah selesai ulangan lalu Zahra, Yahya, dan mendekati Sunny dan Rachael).
Zahra :”Masa anak yang punya sekolah ini ngepek sih ? Kamseupay deh.”(Mengejek).
Yahya :”Hush.. Jangan bilang kayak gitu ra.”
Zahra :”Emang kenyataanya kan ?”
Rachael :”Apalah kalian ngga usah ngejek kami, mentang-mentang kalian bisa ngerjain soalnya apa !! (Sambil cemberut).
Zahra :”Emang iyya kita bisa ngerjain soalnya, ngga kayak kamu tuh yang bisanya nyontek !!(Melipatkan tanganya).
Sunny :”Jangan mentang-mentang kamu bisa trus kamu ngejekin kami berdua, coba kalo kamu yang jadi aku pasti kamu ngga mau diejekin kan ?
Zahra :”Nah, Sekarang kamu tau kan rasanya jadi Risti yang sering kalian ejekin, gimana rasanya coba ? sakit kan ?
Yahya :”Udah-udah lah ra, ngga usah marah-marah.”
Zahra :”Mereka tuh harusnya memang dimarahin biar sadar.”
Yahya :”Sekarang mending masuk kelas aja yuk, main sama Risti.”
Zahra :”Yuk,, males ngurusin orang kayak gini.”
(Sunny dan Rachael hanya terdiam, mereka benar-benar merasa bersalah kepada Risti, Sekarang mereka tahu bagaimana rasanya menjadi Risti yang setiap hari mereka ejek dan jahili. Timbulah keinginan di hati mereka untuk meminta maaf kepada Risti. Mereka berniat meminta maaf kepada Risti, Zahra, dan Yahya saat pulang sekolah).
Sunny :”Risti, Zahra, Yahya, maafin aku ya, selama ini aku dah banyak salah sama kalian. Sekarang aku tahu kalo semua manusia itu sama, nggak ada bedanya, aku sadar aku ngga boleh sombong dan pilih-pilih temen, sekali lagi maafin aku ya ?”(Menundukkan kepala).
Rachael :”Maafin aku juga ya, dosaku dah banyak sama kalian, aku juga ngga tau apa aku masih bisa dimaafin atau ngga, sekali lagi aku minta maaf ya, terutama buat kamu Risti, aku bersalah banget, sekali lagi maafin aku ya ?”(Menundukan kepala).
Yahya :”Ya dari dulu udah aku maafin, dan sekarang aku seneng kalian dah berubah.”
Zahra :”Ya aku maafin, aku juga minta maaf ya tadi aku dah ngejekin dan marah-marah sama kalian tapi aku ngejekin dan marah-marah sama kalian bukan karena aku sebel sama kalian tapi karena aku pengin kalian sadar.”
Risti :”Ya aku juga maafin kalian, aku tau sebenarnya kalian tuh baik kok.”
Sunny :”Makasih temen-temen kalian memang baik, ohya aku juga minta maaf ya Rachael, selama ini aku sering maksa-maksa kamu trus gara-gara aku juga kamu dihukum sama bu guru, maaf banget ya ?
Rachael :”Ya aku maafin kok, kamu jangan ngulangin lagi ya ?”
Sunny :”OK, sekarang kalian masih mau temenan sama aku dan Rachael lagi nggak ?”
Yahya :”Iyya jelas.”
Zahra :”Iyya dong.”
Risti :”Pasti dong.”
Rachael :”Makasih ya temen-temen, kalian tuh baik banget sama aku dan Sunny.”
Yahya :”Ternyata persahabatan itu indah banget ya, dan dalam bersahabat itu ngga boleh milih-milih temen, apapun perbedaannya kita harus menerima ibarat makanan Kafia dan semangkuk ramen, walaupun harganya berbeda tapi lebih enak jika dimakan bersama.”

(Akhirnya Sunny dan Rachael berubah, mereka kini tidak sombong lagi dan tidak memilih-milih teman, mereka juga tidak suka menjahili siswa lain lagi. Kini Sunny, Rachael, Zahra, Yahya, dan Risti selalu bermain bersama, persahabatan mereka begitu erat).



0 komentar:

Posting Komentar