Halaman

Senin, 17 Juli 2017

TUGAS BAHASA INDONESIA - MEMBUAT SINOPSIS NOVEL - SURAT DARI SURGA

Surat Dari Surga
P
ersahabatan Maura dan Sarah diawali ketika mereka bertemu di sebuah rumah sakit. Mereka berdua sama-sama duduk dikelas 5 SD. Maura mengalami patah kaki saat terjatuh dari tangga sekolah. Sedangkan Sarah menderita penyakit Leukemia. Maura dirawat di pavilion kelas VVIP, Sarah dirawat di Bangsal Yasmin kelas III. Banyak anak yang dirawat di Bangsal Yasmin kelas III itu, namun dari sekian banyak anak yang dilihatnya, hanya ada satu anak yang membuat Maura tertarik. Dialah Sarah. Seorang anak berkulit hitam, bertubuh kurus, berkacamata. Satu hal yang membedakannya dari yang lain, ia mengenakan jilbab. Bapaknya seorang kuli bangunan dan ibunya seorang buruh di pabrik lilin. Berbeda dengan Maura, dia bertubuh tinggi, berkulit kuning dan berwajah cantik. Papa Maura menjadi General Menejer di sebuah perusahaan asing dan mamanya seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan. .
Pagi itu Maura menatap menu yang terhidang di meja dekat  tempat tidur Sarah. Menu pagi itu sederhana. Tak ada susu dan buah seperti menu di kamarnya. Sarah sedang menyantap makanannya dengan lahap. Makanan itu seakan menjadi makanan terlezat yang pernah dimakannya. Sarah berkata bahwa yang lezat itu kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya untuk bisa makan. Namun Maura tak mampu memahami apa yang dimaksud sahabatnya itu.
Bu Ima, ibu Sarah menatap haru pada putrinya. Meski badannya makin lemah, parasnya makin pucat, matanya makin cekung. Namun hampir tak terdengar Sarah mengeluhkan rasa sakitnya.
Siang harinya setelah Sarah selesai sholat Dzuhur,  Maura menanyakan pada Sarah alasannya memakai jilbab, ia begitu heran pada Sarah.  Maura tidak begitu mengenal jilbab. Keluarganya pun tak ada yang mengenakannya. Lalu Sarah menjelaskan hal itu kepada Maura bahwa menutupi aurot merupakan kewajiban seorang muslim. Maura yang kurang paham hanya manggut-manggut saja. Sarah juga berkata bahwa cita-citanya adalah mati syahid. Sarah menjelaskan bahwa orang yang mati syahid itu bisa langsung masuk surga tanpa dihisab. Sesaat kemudian terdengar azan ashar, obrolan mereka terhenti. Sarah mengajak Maura sholat namun Maura menolaknya. Katanya ia sholatnya nanti saja. Diam-diam Maura merasa malu, ia lupa kapan terakhir kali ia malakukan sholat. Barangkali waktu mengikuti sholat taraweh di bulan ramadhan yang lalu. Maura lalu menatap Sarah yang sedang  sholat dengan khusyu. Diam-diam Maura mengagumi Sarah. Banyak hal baru yang ia dapatkan dari Sarah. Maura lalu memandang anak-anak lain yang sekamar dengan Sarah. Dilihatnya Siti si pendiam yang lebih suka menyendiri. Sarah pernah berkata, orang tua Siti termasuk kurang mampu. Tapi menurut Sarah itu tidak ada bedanya dengan keluarganya sendiri. Diseberang tempat tidur Sarah terbaring seorang anak perempuan yang sangat manja dan kolokan. Di seberang tempat tidur Siti, terbaring  seoarang anak perempuan yang suka menghabiskan waktunya dengan berteriak-teriak, memarahi ibunya, menangis, dan mengeluhkan penyakitnya. Sementara dua tempat tidur lainnya di ujung kamar, dihuni oleh dua anak balita yang lebih sering merengek minta berjalan-jalan keluar ruangan. Tak ada yang aneh dengan mereka pikir Maura. Mereka memang masih kanak-kanak yang masih pantas merajuk, merengek, menangis, mengeluh, serta menampakkan kekesalan dan kemarahannya. Maura sendiri pun masih sering melakukan hal itu, bahkan sering. Tapi itu semua tidak ditemukan Maura pada diri Sarah.
Selesai sholat, Sarah mempersilakan Maura untuk sholat namun tiba-tiba Maura berbisik pada Sarah bahwa ia lupa bacaan dalam sholat. Maura mengira Sarah akan meledeknya habis-habisan, namun ternyata dugaannya meleset. Sarah justru mengajak Maura untuk belajar sholat bersama. Mendengar itu, ingin rasanya Maura memeluk Sarah erat-erat.

Esok harinya seperti biasa Maura keluar dari kamarnya untuk berjalan-jalan. Ia masih mengenakan kruk penyangga kaki. Hari ini Maura sudah melaksanakan sholat subuh tadi pagi meski dengan bacaan sholat sebisanya yang ia ingat. Ibu dan Ayahnya memujinya. Mereka kagum dengan perubahan yang terjadi pada Maura. Ia lalu pergi menuju Bangsal Yasmin kelas III. Setelah sampai matanya tertuju pada tempat tidur Sarah yang kosong. Siti yang bersiap-siap akan pulang lalu memberi tahu bahwa tadi malam Sarah dibawa ke ICCU, badannya lemah sekali dan perlu tambah darah. Belum selesai Siti berbicara, Maura telah berlalu dengan langkah lebar-lebar menuju ruang ICCU, ada suatu perasaan asing menyelinap di dadanya. Sesampainya, tiba-tiba seseorang keluar dari ruangan itu, kemudian disusul beberapa orang dibelakangnya. Beberapa diantaranya mendorong tempat tidur beroda . Ada sesosok tubuh tertutup kain disekujur badan hingga kepala. Dada Maura semakin berasa berdentam-dentam ketika dilihatnya Bu Ima dan suaminya berjalan dibelakang jenazah itu. Mata Bu Ima sembab dan basah oleh air mata. Maura memanggil Bu Ima dari ruangan itu. Bu Ima segera memeluk dan mendekap Maura. Beliau tak kuasa berucap apa-apa dan langsung menyerahkan sebuah bungkusan yang dimasukkan dalam tas plastik warna hitam. Maura menerimanya dengan tangan bergetar  dan langsung membukanya. Isinya sebuah jilbab kaus warna putih dengan renda dan border cantik. Dibawahnya sebuah buku yang telah kusam dan berbau apak karena lamanya.  Buku itu berjudul  Sifat Sholat Nabi saw. Dihalaman  dalam buku itu terdapat sebuah surat. Dibacanya surat yang penuh canda tawa itu, tapi Maura justru tak dapat menahan tetes air matanya. Maura lalu membuka lipatan jilbab kaus warna putih hadiah dari Sarah. Dengan gemetar ia kenakan jilbab itu di kepalanya. Bu Ima membantu Maura mengenakan sambil tersenyum ditengah derai air matanya. Keduanya lalu tersenyum  membayangkan kebahagiaan Sarah di surga milik Allah SWT kelak di hari akhir.

0 komentar:

Posting Komentar